Biarkan Tetap Menunggu

“Hei.. menikah itu bukan lomba lari,

yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya.

Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk,

yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk,

lantas semua orang berseru hore.

Menikah adalah misteri Tuhan,

Jadi tidak ada istilah terlambat menikah.

Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini.

Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan,

Maka akan tiba moment terbaiknya,

Di waktu yang pas, tempat yang tepat.

Abaikan saja orang-orang yang memang cerewet mulutnya bilang

“Gadis tua, bujang lapuk” atau nyinyir bilang,

“kecil-kecil kok sudah nikah”

_Darwis Tere Liye_

Sependapat dengan Darwis tere liye, menikah itu bukan perlombaan. Siapa yang menikah duluan maka dia yang memenangkan perlombaan dengan hadiah kebahagiaan. Toh, tak sedikit pernikahan yang kandas dan berakhir dengan perpisahan dan tentunya anak yang jadi korban.

Lalu dimana letak kesalahan atau kekurangan jika seeorang masih sendiri atau istilahnya masih lajang diumur yang orang-orang bilang sudah seharusnya menikah? Apakah mereka yang masih sendiri terlihat menyedihkan dan patut dikasihani?

Kebahagiaan yang hakiki bukan terletak pada harta, kekayaan, kebangsawanan, pun pernikahan. Apakah mereka yang nyinyir berani menjamin dengan pernikahan akan benar-benar bahagia?

Kebahagiaan adalah saat kita bisa mensyukuri apa yang kita miliki, bagaimana kita menikmati hidup ini dan bisa saling berbagi. Mungkin kebahagiaan akan terasa lebih lengkap dengan adanya pernikahan. Dimana kita akan menciptakan keluarga kecil yang hangat. Dimana saat kita memejamkan mata pada malam hari akan terasa lebih nyaman dengan seseorang yang menemani dan menjaga kita sepanjang malam. Dan terbangun pagi hari dengan senyumnya yang cerah. Atau suara langkah kaki kecil dan tawanya yang khas malaikat kecil dan tangisannya yang membuat kita melakukan apa saja untuknya.

Tetapi itu mungkin saja kebahagiaan yang cukup sempurna untuk mereka yang beruntung pada saat yang tepat, moment yang tepat, dan tentu saja pasangan yang tepat. Aku rasa mereka yang masih sendiri bukan tidak ingin, hanya saja memang waktu dan keberuntungan belum mendatangi dan menyapa mereka.

Pernikahan bukan seperti film romatis twiligt, dimana si pria berlutut memberi cincin dan “marry me”, Bunga-bunga bertebaran, altar putih yang apik, ciuman mesra and.. happy ending. Pada realitanya pernikahan itu bagaimana kita menciptakan sebuah dunia dimana kita menyatukan 2 perbedaan, 2 kehidupan menjadi 1 kesamaan tujuan. Dan ku rasa itu tidak mudah. Saat kita jatuh cinta, berfikir inilah cinta terakhir dan masa depan! Tapi kecocokan hati bukan datang dari dalamnya perasaan atau pun lamanya menjalin hubungan. Hati akan benar-benar matching saat kita bisa saling memahami kekurangan masing-masing dan menutupi kekurangan tersebut dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan menuntutnya berubah untuk menutupi kekurangan bahkan ingin menghilangkan kekurangan tersebut. Saat tidak menemukan kecocokan tersebut, hati kecil akan berbisik “bukan dia”. Ya.. bukan dia orang yang tepat untuk kita. Dan pada akhirnya tetap pada penantian yang panjang dalam pencarian.

Untuk itulah mereka yang masih sendiri tetap menunggu keberuntungan mendatangi dan menyapanya, mengatakan “inilah momen tepat untukmu, dan lihatlah janji Tuhan-mu dengan mengirimkan belahan hatimu agar hatimu kembali utuh”.

Jadi berhentilah nyinyir dengan mengatakan “kapan nikah?”, “mau nikah umur berapa?”, “ga malu sama umur?”. Atau berhentilah mengatakan “bujang lapuk”, “gadis tua”, atau “kecil-kecil sudah nikah”.

Jadi mulai saat ini, biarkan mereka dalam penantiannya. Biarkan mereka dengan sabar dan penuh harap menunggu janji Tuhannya.. Deal?? ^_^

Iklan

4 thoughts on “Biarkan Tetap Menunggu

  1. Hmhmhm…setuju,,hiduplah seperti air yg mengalir..seperti halnya dgn kematian kita gak tahu kapan..kebahagiaan itu dilihat bkn dr krn berpasangan.sendiri kalau bahagia bisa disebut kebahagiaan jg kok tergantung gmn kita menjalani hidup itu,dan berbagi kesesama bisa disebut kebahagiaan juga toh.hehehe. so enjoy aja..:) 🙂

  2. 100 jempol and 100% benar..yg penting nyaman..dan gak merasa menyiksa diri,menurut kebahagiaan orang lain bahagia,blm tentu itu menjadi kebahagiaan kita.hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s