Jiwaku menasehatiku dan mengajariku
Agar melihat kecantikan yang ada di balik bentuk dan warna
Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah
Sampai tampaklah keelokannya
Sesungguhnya, sebelum jiwaku meminta dan menasehatiku
Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap
Tapi sekarang asap itu telah menyebar dan hilang,
Hanya kulihat api yang membara..

Jiwaku menasehatiku dan memintaku
Untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun tenggorokan
Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan
Ditelingaku yang bodoh dan sia-sia
Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan
Yang menggema melantunkan lagu dari jaman ke jaman
Menyanyikan hymne ke angkasa
Dan menyingkap kerudung keabadian

Jiwaku memintaku dan menasehatiku
Agar tidak merasa mulia karena pujian,
Dan agar tak disusahkan oleh ketakutan karena cacian
Sampai hari itu aku ragu akan harga pekerjaanku
Tapi sekarang aku belajar,
Bahwa pohon berbunga di musim semi dan berbuah dimusim panas,
dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur
Agar benar-benar telanjang dimusim dingin
Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau pun malu.

Jiwaku menasehatiku dan memintaku
Mencari yang tak dapat dilihat
Dan jiwaku mengungkapkan sesuatu padaku
Bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita hasratkan
Sebelum itu,
Aku sudah puas dengan kehangatan musim dingin
Dan dengan angin sepoi-sepoi musim panas.
Tapi sekarang jari-jariku menjadi kabut
Membiarkan jatuh apa yang dipegangnya
Berbaur dengan apa yang tak terlihat,
Yang sekarang begitu aku hasratkan.

Jiwaku menasehatiku dan memintaku
Untuk melihat bahwa cahaya yang ku bawa bukanlah cahayaku
Bahwa laguku tidak diciptakan dalam diriku
Karena meski aku berjalan dengan cahaya,
Aku bukanlah cahaya
Dan meskipun aku kecapi yang dikencangkan dawai-dawaiku,
Aku bukanlah pemain kecapi.

Jiwaku menasehatiku dan menerangiku
Kujaga apa yang kukatakan dalam diriku ini
Dalam kata-kata yang ku dengar dalam heningku…

_Kahlil Gibran_